Featuring Post Example

Posted by TheBlogTemplates On Month - Day - Year

Ya ayuhal ikhwah, Antum perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan batu dan air yang mengalir di sungai ini. Antara batu dan air tidak ada pertikaian di antara mereka. Batu tidak pernah mengatakan, ‘Hai air kenapa bunyimu terlalu keras’ Atau air mempersoalkan, ‘Batu, kenapa kau ada disini.’ Tidak ada persengketaan diantara mereka; Mana hak saya… Mana kewajiban kamu… Tapi kenapa kita tidak mau mengambil ‘ibrah dari batu dan air? Kenapa kita mulai bercerai-berai, memikirkan ini hakku… ini hak saya… Ini kewajibanku… Itu kewajibanmu… Malu kita semua pada batu dan air! Ini saatnya antum semua bersatu, bekerjasama dalam ukhuwah Islamiyah… Allahu Akbar!

Featuring Post Example

Posted by TheBlogTemplates On Month - Day - Year

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et maur...

Featuring Post Example

Posted by TheBlogTemplates On Month - Day - Year

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et maur...

Featuring Post Example

Posted by TheBlogTemplates On Month - Day - Year

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et maur...

Featuring Post Example

Posted by TheBlogTemplates On Month - Day - Year

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et maur...

Ku jejaki alam dalam mencari redhaMu, ku tempuhi dugaan dalam menikmati suruhanMu, ku menangis kerana mengingatkan diriMu.....Temukankanlah si Pencari Cahaya dengan NurMu ya Allah, Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyanyang

RINTANGAN PERTAMA:_Fathi Yakan

Dicatat oleh Pencari Cahaya (PC) On Rabu, Mac 30, 2011

ORANG MUKMIN YANG DENGKI KEPADANYA
Sebagaimana lumrah diketahui hasad adalah penyakit hati yang amat
berbahaya. Hasad boleh mengikis Iman seseorang Mukmin jika ia tidak cepat
kembali siuman, bertaubat kepada Tuhan dan tidak dilimpahi ‘Inayah dan
Rahmat Subhanahu Wata’ala. Tepat seperti yang apa disabdakan oleh Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam:
دب اليكم داء الا مم قباآم , الحسد و البغضاء .والبغضاء هي الحا لقة
.أما اني لا أقول تحلق الشعر ولكن تحلق الدین
“Penyakit umat sebelum kamu telah menular kepada kamu; iaitu hasad dengki dan
permusuhan. Permusuhan tersebut ialah pengikis atau pencukur, Saya tidak maksudkan
ia mencukur rambut, tetapi (yang saya maksudkan) ialah ia mengikis agama.”
(Hadith riwayat Al-Baihaqi)
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam bersabda lagi:
ما ذ ئبا ن جائعان أرسلا في زریبة غنم بأفسد لها من الحرص على
المال والسد في دین المسلم .وان الحسنات آما تأ آل النار الطب
“Bencana melepaskan dua ekor serigala lapar di dalam kandang kambing tidak lebih
besar daripada bencana yang menimpa pegangan agama seorang Muslim dan sifat
serakah terhadap harta (tamakkan harta) dan hasad dengki. Sesungguhnya sifat hasad
memamah segala kebaikan persis seperti api menjilat kayu kering.”
(Hadith riwayat Al-Tirmizi)
Para Du’at menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu Wata’ala, khasnya
yang mendapat sambutan baik, yang cergas, yang masyhur dan berbakat
sentiasa terdedah kepada cacian lidah orang-orang yang hasad serta tipu-daya
mereka. Golongan tersebut merasa dengki pada ilmu dan kelebihan-kelebihan
yang ada pada para du’at. Mereka sentiasa mengintai dan menunggu-nunggu
masa yang baik untuk mencetuskan pertembungan antara mereka dan
menjatuhkan imej mereka.

Ibnu Mu’taz pernah berkata:
“Orang yang hasad itu marah kepada orang yang tidak berdosa, kikir terhadap sesuatu
yang bukan kepunyaannya dan sentiasa mencari atau meminta sesuatu yang tidak akan
diperolehinya.”

Dalam hubungan ini Allah Subhanahu Wata’ala telah memerintahkan
Nabi dan umatnya supaya berlindung dari bencana golongan pendengki.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ( 1) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ( 2) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
( 3) وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ( 4) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ( 5 )
“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh, dan kejahatan
makhluknya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gelita, dan dari kejahatan
wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dan kejahatan
orang yang dengki apabila ia dengki. ”
(Surah Al-Falaq: Ayat 1-5)
Rasulullah sendiri melarang sifat hasad dengki dan saling dengki
mendengki. Beliau melarang sifat benci dan saling menimbulkan kebencian.
Beliau juga melarang sifat saling membesar diri dan jebak-menjebak antara satu
sama lain.
Beliau bersabda:
ایا آم والظن فان الظن أآذب الحدیث ولا تحسسوا ولا تجسسوا ولا تن ا
فسوا ولا تحاسدوا ولاتبا غضوا ولا تدابروال ، وآونوا عباد الله إخوان اً
آماامر. المسلم أخو المسلم لایظلمه ولا یخذله ولا یحقره. التقوى ههنا.
وأشار إلى صدره.. بحسب امرىء من الشر ان یحقر أخاه المسلم.. آل
المسلم على المسلم حرام دمه وعر ضه وماله
Maksudnya:
“Awas kalian daripada sifat prasangka. Sesungguhnya prasangka itu adalah kata-kata
yang paling dusta. Jangan saling olok-mengolok, intai-mengjntai, atas-mengatasi, dengki
mendengki, benci-membenci dan jebak menjebak. Jadilah kalian laksana hamba-hamba
Allah yang bersaudara seperti yang telah diperintahkan kepada kalian. Seorang Muslim
itu adalah saudara bagi seorang Muslim yang lain. Janganlah ia menzalimi saudaranya;
janganlah ia membiarkannya (apabila ia dizalimi); janganlah ia menghina saudaranya.
Taqwa itu (letaknya) di sini, seraya baginda menunjuk ke dadanya. Cukuplah bagi
seorang Muslim itu kejahatan (dosa) menghina saudaranya yang Mukmin haram bagi
seseorang Muslim itu (menceroboh) darah (nyawa) nama baik dan harta seseorang
Muslim yang lain.”
(Hadith riwayat Malek, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tarmizi)
Sebenarnya orang-orang yang dengkikan kelebihan, kebolehan dan ilmu
yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada para Du’at
mempunyai jiwa yang berpenyakit, hati yang berkarat. Mereka sanggup

membuat tipu-daya terhadap saudara mereka sendiri demi melepaskan
kemarahan dan sentimen yang meluap dalam dada mereka. Sikap inilah yang
pernah mendorong Qabil membunuh saudara kandungnya Habil.
Perasaan dengki, marah dan dendam yang meluap-luap inilah yang
mendorong berlakunya kejahatan tersebut.
Allah Subhanahu Wata’ala:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ یُتَقَبَّلْ
مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا یَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ( 27 ) لَئِن بَسَطتَ
إِلَيَّ یَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَاْ بِبَاسِطٍ یَدِيَ إِلَيْكَ لَأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللّهَ رَبَّ
الْعَالَمِينَ ( 28 ) إِنِّي أُرِیدُ أَن تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
وَذَلِكَ جَزَاء الظَّالِمِينَ ( 29 ) فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ
( الْخَاسِرِینَ ( 30
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang
sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dan salah seorang
dan mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku
pasti membunuhmu!” “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk
membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk
membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian ‘alam.”
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku
dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian
itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya
menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia
seorang di antara orang-orang yang merugi.”
(SurahAl-Ma’idah: Ayat 27-30)
Babak-babak dakwah Islam yang dilalui sepanjang sejarah zaman dahulu
dan kini banyak memperlihatkan peristiwa-peristiwa tragis di mana penyebab
utamanya ialah sifat hasad dengki. Bukan sifat dengki dan orang jauh tetapi
yang datang dan kalangan sahabat handai sendiri. Salah seorang penyair
bermadah:
وظلم ذوي القربى أشد مضا ضة على المرء منوقع الحسام المهند
Penganiayaan oleh kaum kerabat
lebih berbisa dirasakan,

oleh seseorang,
dari tusukan pedang waja India.
Sekian banyak para pemimpin dan penguasa yang telah difitnah dan
dicela, khabar-khabar angin dan kata nista dihadapkan kepada diri mereka;
terbit dari rasa dengki orang yang sakit jiwa dan tidak mengendahkan maruah
orang dan tanggungjawab akhlak terhadap orang lain. Sekian banyak tuduhantuduhan
palsu dicipta untuk mengobarkan kebencian dan permusuhan yang
didorong oleh perasaan dengki dan khianat. Banyak jamaah yang berpecahbelah
kerana angkara manusia pendengki yang busuk hati; membawa fitnah ke
sana ke mari tanpa rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala, — Tuhan alam
semesta; tanpa mengambil pusing akan peringatan Rasulullah Sallallahu’alaihi
Wasallam. Beliau bersabda mengingatkan:
ليس مني ذو حسد ولا غميمة ولا آهانة ولا أنامنه
“Orang yang berhati dengki, yang menjadi batu api, beramal dengan yang karut-marut
bukan daripada umatku dan aku bukan ikutan mereka.”
Kemudian baginda membaca firman Allah Subhanahu Wata’ala yang berbunyi:
وَالَّذِینَ یُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اآْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا
( وَإِثْمًا مُّبِينًا ( 58
“Orang-orang yang menyakiti para Mu‘min lelaki dan perempuan (dengan membuat
fitnah) padahal mereka (orang-orang yang beriman tersebut) tidak berdosa maka
sesungguhnya pembawa fitnah tersebut telah memikul beban pendustaan dan dosa yang
nyata.”
(Surah Al-Ahzab: Ayat 58)
Bencana hasad dengki ini apabila telah berkobar boleh mendorong orang
yang berkenaan melakukan berbagai-bagai kebodohan, boleh melakukan apa
saja keburukan dan hal-hal yang dilarang; persis seperti api apabila ia berkobar
marak; ia membakar daun-daun yang kening dan basah tanpa kecuali.
Manusia yang hasad sewaktu-waktu boleh berdusta mencipta
kebohongan dan fitnah untuk merugikan manusia lain yang menjadi lawannya.
Alangkah baiknya, kalau sebelum ia berbuat demikian ia menginsafi
bencananya. Alangkah baiknya, jika ia mendengar Hadith Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam yang menyelar orang-orang sepertinya.

Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ایما رجل أشاع على رجل مسلم بكلمه هومنها بريء یشينه بها في
الدنيا، آان حقأ على الله ان یذیبه یوم القيامة النار حتى یأتي بنفاد ماقال
“Sesiapa yang mengembar-gemburkan (pada orang ramai) sesuatu perkara (perkataan)
terhadap seseorang Muslim untuk menjatuhkan maruah orang tersebut di dunia pada hal
ia tidak demikian maka wajiblah Allah mencairkan pembawa fitnah tersebut pada hari
Qiamat dalam api neraka sehinggalah ia dapat membuktikah kebenaran apa yang telah
dikatakannya.”
(Hadith riwayat Al-Thabarani)
Orang yang dengki itu mungkin akan mengumpat dan menjadi batu api
padahal ia menyangka ia telah berbuat baik, syaitan pula mengajukan alasanalasan
kepadanya untuk membenarkan perbuatan buruk tersebut supaya dia
terus terjebak di dalam fitnah.
Firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَمِنْهُم مَّن یَقُولُ ائْذَن لِّي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُواْ وَإِنَّ جَهَنَّمَ
لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِینَ ( 49 ) إِن تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ
یَقُولُواْ قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِن قَبْلُ وَیَتَوَلَّواْ وَّهُمْ فَرِحُونَ ( 50 ) قُل لَّن یُصِيبَنَا
( إِلاَّ مَا آَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَآَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ( 51
Maksudnya:
“Ada di antara mereka yang berkata izinkan saya pergi dan jangan melibatkan aku dalam
fitnah. Bahkan mereka telah pun terjebak dalam fitnah dan sesunguhnya neraka itu
melingkari orang-orang kafir. Seandainya, engkau; hai Muhammad mendapat kebaikan
maka hal itu merunsingkan mereka tetapi sekiranya engkau mendapat bencana kesusahan
mereka akan berkata:
Kami telah pun menyedari dan menghindari bencana tersebut awal-awal lagi. Kemudian
mereka beredar dengan riang gembira. Katakanlah wahai Muhammad, tidak ada yang
akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dialah Tuhan kami
dan hendaklah orang-orang Mukmin bertawakkal kepada Allah.”
(Surah Al-Taubah: Ayat 49-51)
Alangkah baiknya kalau manusia pendengki tersebut memahami betapa
ruginya akibat dengki khianat tersebut. Sesungguhnya Allah Subhanahu
Wata’ala telah menjanjikan untuk orang-orang sepertinya siksa yang pedih.
Lebih-lebih lagi untuk orang yang terus-menerus mengembangkan fitnah tanpa
bertaubat dan sedar diri.

Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam menyatakan:
الربا اثنان وسبعون بابأ، ادناها مثل اتيان الرجل امه وان اربى الربا
استطالة الرجل في عرض أخيه
‘Riba ‘ itu ada 72 pintu, yang paling kecil dosanya ialah seperti melakukan hubungan
Jenis dengan ibu sendiri dan sebesar-besar riba’ ialah seorang itu menghakis nama baik
saudaranya.’
(Hadith riwayat A1-Tabrani)
Sabda Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam:
مأاآل لحم اخيه في الدنيا قرب اليه یوم القيامة فيقال له : آله ميتأ آما
اآلته حيأ، فيأ آله ویضخ.
Barangsiapa yang memakan daging saudaranya di dunia (mengumpat) kelak pada hari
Qiamat dibawakan kepadanya, makanlah daging bangkai ini sebagaimana engkau makan
dagingnya ketika dia hidup dahulu. Lalu ia pun makan memakan daging itu sambil
berteriak-teriak.
(Hadith riwayat A1-Tabrani dan lain-lain)
Sabda Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam:
الغيبة أشد من الزنا. قيل: وآيف؟ قال الرجل یزني ثم یتوب فيتوب الله
عليه، وان صاحب الغيبةلا یغفر له، حتى یغفر له صاحبه
Mengumpat itu lebih buruk daripada zina. Sahbat bertanya bagaimana? Rasulullah
menjawab: seorang yang berzina itu kalau bertaubat mungkin taubatnya itu diterima
oleh Allah. Akan tetapi orang yang mengumpat tidak akan Allah ampunkan dosanya
sehinggalah orang yang diumpatinya itu memaafkannya.”
(Hadith riwayat Tabrani dan Baihaqi)
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam menerangkan lagi pengertian mengumpat
dengan sabdanya:
اتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسرله أعلم: ذآرك أخاك بما یكره. قيل:
أرأیت إن آان في أخي ماأقول؟ قال: ان آان فيه ما تقول فقد بحته

“Tahukah kalian apa ertinya mengumpat?” Sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya
yang lebih tahu.” Ujar Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam lagi:(Mengumpat
ialah)“Engkau mengatakan tentang saudaramu sesuatu yang tidak disukainya.” Lalu
ditanyakan: “Bagaimana kalau ada sesuatu yang patut saya kata tentang saudara saya
itu?” Jawab Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam: “Sekiranya apa yang engkau
sebutkan tentang saudaramu itu betul-betul ada padanya, maka itu bermaknna engkau
telah mengumpatnya tetapi jika tidak betul maka itu bererti engkau telah mengadaadakan
kebohongan terhadapnya.”
FAKTOR YANG MENYEBABKAN HASAD DENGKI
Di dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karangan Imam Al Ghazzali
radiyalla’anhu ada disimpulkan sebab-sebab yang menimbulkan perasaan hasad
dengki tersebut.
Antara lain:
i)Perasaan Permusuhan dan Kebencian
Ini adalah sebab yang paling banyak menimbulkan kedengkian. Kerana
sesiapa yang telah disakiti oleh seseorang lain atas sebab-sebab tertentu atau
menyangkalnya dalam tujuan-tujuan tertentu lantaran alasan-alasan tertentu,
hatinya pasti marah lalu membenci orang yang menyakitinya itu, maka
tertanamlah bibit dengki dalam dirinya. Dengki mengundang perlakuan yang
aggresif untuk memuaskan hatinya.
Pendekata perasaan hasad dengki sentiasa bergandingan dengan
perasaan marah dan permusuhan.
ii) Merasa Diri Mulia
Perasaan ini manifestasinya ialah seseorang itu merasa keberatan kalau
ada sesiapa yang dianggapnya mengatasi dirinya. Dia tidak rela kalau ada orang
lain melebihinya. Kalau ada orang-orang sepertinya yang mendapat lebih
pangkat, kuasa, ilmu dan harta; dia bimbang kalau-kalau orang tersebut akan
bersikap takabbur terhadapnya. Dia tidak boleh tahan dengan sikap mengatasi
yang ditunjukkan oleh saingannya itu. Malah ia tidak boleh menerima apa yang
dirasakannya sebagai sikap mengatasinya.
iii) Takabbur
Jelasnya seorang itu mempunyai watak membesarkan diri terhadap orang
lain, selalu memperkecilkan dan memperhambakan seseorang. Ia
menganggarkan seseorang itu mematuhinya. Apabila orang berkenaan

menerima atau memperolehi sesuatu kurnia ia khuatir kalau-kalau orang itu
tidak lagi dapat merelakan kepongahannya. Akhirnya orang yang telah
mendapat kurnia tersebut akan enggan mengikutinya. Atau boleh jadi ia
menganggap orang tersebut akan cuba pula menyainginya.
iv)Ujub
Pernah Allah Subbanahu Wata’ala jelaskan kepada kita perihal umatumat
dizaman silam. Mereka merasa takjub dengan diri mereka sendiri. Hal ini
menghalang mereka menurut kebenaran. Hujah mereka selalunya ialah seperti
yang tertera di dalam Al Qur’an:
“Bukankah kamu tak lebih dari
manusia (biasa) seperti kami juga?”
Dan ungkapan yang berbunyi:
“Dan mereka berkata adakah wajar kami mempercayai manusia
yang seperti kami juga?”
Golongan tersebut merasa anih melihat orang yang berjaya mendapat
pangkat ke Rasulan, menerima wahyu dan martabat yang dekat di sisi Allah
Subhanahu Wata’ala ialah manusia seperti mereka. Sebab itu mereka menaruh
rasa dengki kepada Rasul-Rasul tersebut.
v)Takut Terlepas Sesuatu Tujuan dan Habuan
Biasanya perasaan ini ujud dalam kalangan orang yang saling berlumbalumba
merebut sesuatu habuan. Tiap orang akan merasa dengki kepada
saingannya apabila saingannya mendapat suatu kelebihan yang boleh
membantu dirinya sahaja membolot habuan yang menjadi tujuan mereka tadi.
vi)Ghairah Menjadi Ketua dan Mencari Populariti
Umpamanya seseorang yang bercita-cita untuk menjadi manusia pertama
yang tidak ada tolok bandingannya dalam salah satu cabang seni. Apabila
keghairahan terhadap pujian dan jolokan bahawa dialah satu-satunya pakar
yang tidak ada taranya di zaman itu telah menguasai dirinya, tiba-tiba dia
mendengar ada orang lain yang dapat menandinginya di tempat lain. Hal ini
nescaya akan menyusahkan hati perutnya. Ia bercita-cita kalau tandingannya itu
mati sahaja atau kemahirannya menurun dan pupus.

vii) Busuk Hati
Keadaan ini kalau ada pada seseorang maka ia akan bersikap tidak suka
sesuatu kebaikan diperolehi oleh hamba Allah yang lain. Apabila disebutkan di
hadapannya tentang kesenangan mana-mana hamba Allah, sempit hatinya
mendengar hal tersebut. Akan tetapi apabila dinyatakan pula sebaliknya,
umpamanya tentang kekacauan, kegagalan dan nasib malang menimpa orang
lain maka ia merasa gembira dan suka hati.
BAGAIMANA KITA MENGHADAPI PENDENGKI
Antara langkah-langkah yang dianjurkan oleh Islam selaras dengan
kaedah akhlaknya dan contoh yang ditunjukkan oleh Nabi-nabi ialah berhatihati
terhadap golongan pendengki, menjauhkan diri dan golongan pengumpat,
mengelakkan pergaulan dengan mereka atau mendengar kata-kata mereka.
Semoga dengan ini mereka dapat menginsafi keburukan perangai mereka.
Islam mewajibkan sesiapa yang mendengar apa-apa sebutan yang berdosa
supaya menyelar orang-orang yang membeberkannya. Islam mewajibkan
seorang Muslim mempertahankan nama baik saudaranya. Islam menggalakkan
supaya orang-orang yang menghakis maruah dan nama baik orang lain diberi
pengajaran yang sesuai dengan syara’ dan akhlak Islam. Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
“Barangsiapa yang mempertahankan maruah saudaranya ketika saudaranya itu tidak
ada maka wajiblah Allah melepaskannya dari siksa neraka.”
(Hadith riwayat Ahmad)
Orang-orang yang suka mengikut perangai pendengki dan golongan
pengumpat, yang menjadi batu api, suka mendengar kata-kata mereka dan
menyampaikan fitnah bawaan mereka, hendaklah mengambil ingatan tentang
sabda Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam yang berbunyi:
Barangsiapa yang mendengar saudaranya diumpat namun dia tidak membelanya
padahal ia mampu maka ia ikut menanggung dosa pengumpatan itu di dunia dan di
akhirat.
(Hadith Asfahani)
Sabdanya lagi:
“Sesiapa dan kalangan orang Islam yang tidak membela orang Islam lain apabila
kehormatannya dicerobohi dan nama baiknya dicacati maka nescaya Allah membiarkan
nasibnya ketika ia sangat memerlukan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan
mana-mana orang Islam yang menolong orang Islam lain ketika nama baiknya dan
kehormatannya diceroboh nescaya Allah akan menolongnya ketika ia sangat-sangat
memerlukan pertolonganNya (Allah).”

(Hadith riwayat Abu Daud)
Orang-orang yang suka mengintai-intai aib orang lain dan mencerobohi
serta menghakis nama baik mereka hendaklah merasa takut terhadap balasan
murka Allah Subhanahu Wata’ala serta janji-janji siksaNya yang telah
dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam.
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisan; akan tetapi Iman belum menyerap ke
dalam hati, janganlah kalian menyakiti orang lain. Jangan mengintai-intai aurat (cacat
cela mereka), sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, orang lain akan
mengintai-intai pula cacat celanya sendiri. Barangsiapa yang cacat celanya diintai oleh
Allah nescaya Allah akan bukakan pekungnya walaupun dalam kenderaannya sendiri.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Walaupun di tengah rumahnya sendiri.”
(Hadith ini adalah riwayat Abu Daud)
Adapun sikap yang perlu diambil oleh para Da’ie Muslim apabila
berhadapan dengan orang yang menaruh perasaan hasad dengki ialah sentiasa
bersabar menunaikan solat, berlindung diri dengan Allah Subhanahu Wata’ala
dari kejahatan orang lain dan bencana prasangka dan hasad-dengki mereka.
Hendaklah ia menguasai dirinya dari sifat amarah atau membalas dengan
berbagai helah dan tipu daya dengan tidak mengikut cara dan akhlak sebagai
seorang Mukmin. Kalaulah para Da’ie Muslim rela menurut jejak langkah
perbuatan mereka yang buruk itu, nescaya ia akan setanding pula dengan
mereka. Dengan demikian jatuhlah nilai akhlak dan agamanya, di samping
tercemarlah pula ciri-ciri yang membezakannya, dengan orang-orang jahat. Yang
lebih utama dan elok dilakukan umpamanya, ialah menyumbangkan apa-apa
yang baik yang dapat disumbangkan kepada masyarakat. Segala penanggungan
dan penderitaan serahkanlah sahaja kepada Allah Subhanahu Wata’ala Yang
Maha Mengetahui. Tidak ada yang luput dan pengetahuanNya baik di langit
maupun di bumi. Allah Subhanahu Wata’ala tidak pernah alpa terhadap
perbuatan golongan yang zalim. Para Da’ie hendaklah sentiasa ingat sabda
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam:
“Tidak ada satu penanggungan yang lebih dikasihi Allah daripada seteguk kemarahan
yang ditelan oleh seseorang. Mana-mana perasaan marah yang dikawal oleh seseorang
semata-mata kerana Allah nescaya Allah akan penuhkan batinnya dengan keimanan.Biarlah pegangan dan perinsip hidup seorang Da’ie itu sesuai seperti apa
yang pernah dilafazkan oleh orang yang soleh dengan doa yang berbunyi:
“Ya Allah! Saksikanlah bahawa nama baikku telah aku sedekahkan kepada orang.”
Para Pendakwah Islam hendaklah berbeza dari makhluk Allah
Subhanahu Wata’ala yang lain dengan ciri akhlak yang baik. Sesungguhnya
akhlak yang baik ialah buah dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah
Sallallahu’alaihi Wasallam. Ini bersesuaian benar dengan sabda baginda:
“Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan:
Sesungguhnya seseorang hamba Allah itu dengan akhlaknya yang baik boleh mencapai
darjat yang paling agung di akhirat dan mencapai darjat yang paling mulia meskipun ia
lemah dan segi ibadat. Dan sesungguhnya seseorang hamba Allah itu dengan keburukan
akhlaknya boleh menjunam ke dasar neraka yang paling bawah.
(Hadith riwayat At Tabrani)
Anas bin Malik meriwayatkan bahawa pada suatu ketika kami duduk
bersama Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam, tiba-tiba beliau bersabda:
“Sekarang akan muncul seorang lelaki ahli syurga menjenguk kalian.”
Tiba-tiba muncullah seorang lelaki Ansar.
Pada esok harinya dalam kesempatan yang sama. Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam
pun berkata seperti itu juga, lantas muncullah orang lelaki yang sama seperti semalam.
Pada hari ketiga, Nabi pun berkata demikian juga, lalu muncul lelaki hari pertama
tersebut juga. Apabila Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam beredar, ‘Abdullah Amar
pun mengekori lelaki tersebut. Beliau mengatakan kepadanya: “Saya telah bergaduh
dengan bapa saya dan saya bersumpah tidak mahu bersamanya selama tiga hari. Kalau
saudara sudi menumpangkan diri saya dalam tempoh itu nescaya saya akan turut
saudara pulang.” “Baiklah, saya sudi, “jawab lelaki itu. Anas radiyAllahu‘anhu
meriwayatkan bahawa Abdullah menceritakan yang beliau tinggal bersama lelaki
tersebut selama tiga malam tetapi tidak pernah melihatnya bangun sembahyang malam.
Cuma apa yang diihatnya ialah apabila lelaki tersebut bertukar kedudukan di tempat
tidurnya, ia sentiasa menyebut nama Allah Subhanahu Wata’ala dan bertakbir,
sehinggalah akhirnya ia bangun menunaikan Solat Fajar. Abdullah menambah: “Aku
tidak pernah mendengar lelaki tersebut berkata kecuali dengan perkataan yang baik
sahaja.”
“Apabila berselang tiga malam maka aku pun hampir-hampir meremehkan amalannya,
kata Abdullah. Selepas itu aku pun berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, sebenarnya
antara aku dan bapaku tidak ada apa-apa sengketa dan pergaduhan. Cuma aku telah
mendengar Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam menyebut perihal dirimu sebanyak
tiga kali. Beiau berkata: “Sekarang tampil menjengol seorang ahli syurga “. Tiap-tiap kali
orang yang muncul itu ialah saudara. Lantaran itulah saya ingin menumpang di rumah
saudara untuk melihat apakah amalan saudara supaya dapat saya contohi. Tapi saya
tidak nampak saudara melakukan apa-apa amal yang besar” “Apakah yang menyebabkan
saudara mencapai martabat seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihi
Wasallam itu. Jawab lelaki itu: “Tidak ada apa-apa yang saya lakukan selain dari apa
yang telah saudara lihat. Kata Abdullah, “Ketika saya berpaling dan beredar lelaki
tersebut memanggil saya dan berkata lagi: “Tidak ada apa-apa yang saya lakukan,
kecuali, apa yang telah saudara lihat. Cuma saya tidak pernah menyimpan dalam hati
saya hasrat menipu orang lslam yang lain atau rasa dengki terhadap sesiapa, lantaran
inilah yang telah meningkatkan martabat saya.”
(Hadith: riwayat Ahmad dengan Sanad perawi, mengikut Bukhari, Muslim dan
Nasai’e).
Seorang Da’ie memang amat memerlukan kepada hati yang sihat. Akan
tetapi ia hendaklah sentiasa bersikap waspada. Ia memerlukan akhlak yang
lurus dengan kesedaran. Ia harus kuat dan tidak dapat ditawan oleh sifat marah
sehingga kecundang; melakukan perbuatan yang lumrah dilakukan oleh para
juhala’ dan orang yang rendah peribadinya. Ia hendaklah yakin bahawa Allah
Subhanahu Wata’ala yang Maha Mengetahui segala rahsia akan menguruskan
segala-galanya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ یَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا یَكُونُ مِن نَّجْوَى
ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَآْثَرَ
إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَیْنَ مَا آَانُوا ثُمَّ یُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا یَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ
( شَيْءٍ عَلِيمٌ ( 7
“Tidak ada tiga orang yang berpakat rahsia kecuali Allah pihak yang keempat. Tidak juga
lima kecuali Allah pihak yang keenam. Tidak kurang dan bilangan itu atau lebih kecuali
Allah bersama mereka di mana sahaja mereka berada. Kemudian Allah menyatakan apa
yang mereka lakukan pada hari Qiamat kelak. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.”
(Surah Al-Mujadilah: Ayat 7)
RINTANGAN PERJUANGAN DALAM KEHIDUPAN PENDAKWAH
FATHI YAKAN 19
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أَفَلَمْ یَنظُرُوا إِلَى السَّمَاء فَوْقَهُمْ آَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَیَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٍ
(6)
“Dan telah Kami ciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh
hatinya kepadanya. Kami yang lebih hampir kepadanya dan urat lehernya sendiri.
(Surah Qaf: Ayat 6)
Tepatlah seperti yang ungkapkan oleh Rasulullah Sallallahu’alaihi
Wasallam:
“(Pada suatu ketika) Allah mengingatkan Nabi lbrahim ‘alaihissalam melalui wahyu
dengan peringatan (berikut):Wahai Khalil, elokanlah akhlakmu walaupun terhadap
orang-orang kafir, kelak engkau akan menempati tempat orang-orang baik.
Sesungguhnya telah tersurat dalam ketetapanku untuk melindungi orang-orang yang
baik akhlaknya di bawah lembayung arasyKu. Akan Aku jamu mereka dengan minuman
dari sumber kudus milikku. AkanKu hampirkan (tempat duduknya) di sampingKu.”
(Hadith ini diriwayatkan oleh Tabrani)
Benarlah seperti apa yang dikatakan oleh da’ie ulung Muhammad
Sallallahu’alaihi Wasallam:
“Orang yang diransang kemarahannya tetapi dapat mengawal runtunan marah dan
bersikap hilm, wajib mendapat kasih sayang Allah.”
(Riwayat Asfahani)
Rasulullah bersabda lagi:
Maksudnya:
“Apabila Allah menghimpunkan para makhluk kelak maka terbitlah suatu suara
menyeru dan mengumumkan; wahai Ahlu‘l fadli: (orang-orang mempunyai keutamaan).
Maka bangunlah beberapa orang yang bilangannya tidak terlalu ramai dan mereka terus
bengerak masuk ke syurga. Mereka disambut oleh para Malaikat. Malaikat bertanya:
Kami nampak saudara-saudara begitu cepat masuk syurga maka siapakah sebenarnya
saudara semua. Mereka menjawab: “Kami ialah Ahlu’l fadli:” Malaikat bertanya lagi:
“Apakah keutamaan saudara-saudara ?“Mereka menjawab: “Dulu, (ketika kami di
dunia) kami bersifat sabar bila dianiaya. Kami bersifat hilm (tidak membalas keburukkan
walaupun kami mampu berbuat demiikian) apabila diperlakukan secara tidak wajar.
“Malaikat pun berkata: “Masuklah kalian dalam syunga. Inilah sebaik-baik ganjaran
untuk orang-orang yang berbuat baik.”

Rasulullah pernah menerangkan:
“Mahukah kalian (mendengar saya terangkan perkara yang menambahkan kemuliaan
dan meninggikan martabat. Sahabat baginda menjawab: “Mahu wahai Rasulullah!”
Baginda pun berkata: “(Yang menaikkan martabat ialah) anda bersifat hilm terhadap
orang yang memperlakukan anda sebagai orang bodoh, anda memaafkan orang yang
menzalimi anda, memberi kepada orang yang tidak sudi memberi apa-apa kepada anda,
menyambung silaturrahim dengan orang yang tidak sudi mempunyai perhubungan
dengan anda.”
(Riwayat Tabrani)

Reaksi: 

0 Response to "RINTANGAN PERTAMA:_Fathi Yakan"

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Catatan Popular

    Solat dulu yup

    Halal JAKIM

    About Me

    Foto Saya
    Pencari Cahaya (PC)
    lahir kat 135 kampung hiliran masjid,21000 Kuala Terengganu, Terengganu, tinggal di Nabawan, Sabah selama beberapa tahun dan menetap di Kelantan selepas itu.....
    Lihat profil lengkap saya
    get this widget here

    Meh kecek smeta (jom berdialog)

    Followers